“Ada dua kalimat yang dicintai oleh Ar-Rahman, ringan diucapkannya, namun berat dalam timbangannya”.
sebagai mana ada nya kitab baik dan kitab amalan jahat pada malaikat waktu atas dunia di namakan jua timbagan atau kitab baik dan buruk amalan tiap manusia sewaktu atas dunia; sebagai mana di sebut kitab amalan baik dan buruk timbagan al-mizan jua ada di padang masyar bagi mentukan berat nya seluruh amalan baik dan buruk dan sewaktu ityu dikatan tiada satu zaharan pun yang tidak tertimbang atau tertulis dalamkitab baik dan buruk manusia;
Oleh karena itu di antara para ulama ada yang mengatakan bahwa mizan itu satu dan kadang disebut jama’ itu didasarkan pada yang ditimbang atau berdasarkan umat. Mizan yang hanya satu itulah yang digunakan untuk menimbang amal perbuatan umat Muhammad, amal perbuatan umat Nabi Musa, amal perbuatan umat Nabi Isa dan seterusnya. Demikian akhirnya kata mizan kadang disebutkan dalam bentuk jama’ (mawazin = timbangan-timbangan) karena melihat banyaknya umat yang akan ditimbang amalnya.
Ulama yang mengatakan bahwa mizan itu secara jumlah memang lebih dari satu beralasan karena pada dasarnya (sebagaimana disebutkan oleh Allah) memang lebih dari satu. Dan jaiz saja bila Allah Ta’ala membuat mizan untuk masing-masing umat atau membuat mizan untuk ibadah fardhu, mizan untukn ibadah nafilah dan sebagainya.
Namun yang lebih jelas wallahu ‘alam mizan itu hanya satu, akan tetapi berbilang jika dilihat dari yang ditimbang.Rasulullah S.A.W. bersabda:
"Daun timbangan kebaikan itu dari Nur sedangkan daun timbangan keburukan itu dari Kegelapan".
“Pada hari Kiamat, mizan akan ditegakkan. Andaikan ia digunakan untuk menimbang langit dan bumi, niscaya ia akan tetap lapang. Maka Malaikat pun berkata, “Wahai Rabb-ku, untuk siapa timbangan ini?” Allah berfirman: “Untuk siapa saja dari hamba-hamba-Ku.” Maka Malaikat berkata, “Maha suci Engkau, tidaklah kami dapat beribadah kepada-Mu dengan sebenar-benarnya.” (Diriwayatkan oleh al-Hakim dan dinilai shohih oleh al-Albani dalam Silsilah As-Silsilah Ash-Shohihah, no. 941).
Mizan atau timbangan adalah alat untuk mengukur sesuatu berdasarkan berat dan ringan. Adapun mizan di akherat adalah sesuatu yang Allah letakkan pada hari Kiamat untuk menimbang amalan hamba-Nya. (Syarah Lum’atul I’tiqaad, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, hal. 120)
At-Tarmizi merawikan bahawa:
Rasulullah S.A.W. bersabda: "Syurga itu diletakkan dari sebelah kanan Arasy dan neraka di sebelah kirinya, juga daun timbangan kebaikan itu dari sebelah kanannya dan daun timbangan keburukan itu dari sebelah kirinya. Oleh kerananya syurga berhadapan dengan kebaikan dan neraka berhadapan dengan keburukan".
Syaikh Muhammad bin sholih al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa secara umum yang ditimbang adalah amal perbuatannya, karena kebanyakan dalil-dalil menunjukkan bahwa yang ditimbang adalah amal perbuatan. Adapun timbangan buku catatan amal dan pelakunya, maka itu khusus untuk sebagian orang saja. (Syarah al-‘Aqidah al-Wasithiyyah, hal. 390)
Ibnu Abbas berkata: "Kebaikan dan keburukan ditimbang dalam sebuah timbangan yang mempunyai dua daun dan lisan". Dia berkata lagi, " Jika Allah S.W.T. menghendaki menimbang amal hamba, menggantikannya dengan jisim lalu menimbangnya pada hari kiamat".
Dan Kami akan tegakkan timbangan yang adil pada hari Kiamat, sehingga tidak seorang pun yang dirugikan walaupun sedikit. Jika amalan itu hanya seberat biji sawipun, pasti Kami akan mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS. Al-Anbiya’: 47)