Jumaat, 12 Januari 2018

hakikat allah ujud dari segala sesuatu;

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Imran: 18).

 BAB II TAUHID RUBUBIYAH, TAUHID ULUHIYAH DAN TAUHID UBUDIYAH Kata tauhid berasal dari kata wahhada yuwahhidu tauhîdan, yang berarti menjadikan-Nya satu. Kata tauhid secara istilah didefenisikan sebagai “mengesakan Allah SWT” Tuhan sembahan dengan segala nama, sifat dan perbuatan-Nya. Berdasarkan produk sejarah, permasalahan-permasalahan dalam ilmu kalam, dan untuk memudahkan dalam mempelajari dan memahami tentang tauhid, serta secara teoritis tauhid dapat diklarifikasikan dalam tiga jenis, yaitu sebagai berikut: Pertama:

 Tauhid Rububiyah Rububiyah adalah kata yang dinisbatkan kepada salah satu nama Allah SWT, yaitu “Rabb”. Nama ini mempunyai beberapa arti, antara lain: al-Murabbi (pemelihara), al-Nashir (penolong), al-Malik (pemilik), al-Muslih (yang memperbaiki), al-Sayyid (tuan), dan al-Wali (wali). Sedangkan menurut istilah tauhid rububiyah berarti “percaya bahwa hanya Allah-lah satu-satunya pencipta, pemilik, pengendali alam raya yang dengan takdirnya Ia menghidupkan dan mematikan serta mengendalikan alam dengan sunnah-sunnah-Nya.[1] “Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’raaf: 54).[2] 

Tauhid Rububiyah mencakup dimensi-dimensi keimanan berikut ini: Pertama : Beriman kepada perbuatan-perbuatan Allah yang bersifat umum. Misalnya menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan, menguasai, dan lain-lain. Kedua : Beriman kepada takdir Allah. Ketiga : Beriman kepada Zat Allah SWT.[3] Al-Illah berarti: Tuhan yang wajib ada, yaitu Allah, sedangkan Uluhiyah berarti: Mengakui dan meyakini Allah sebagai satu-satunya Tuhan. Satu atau Esa dalam sifatnya berarti:sebagai mana allah ujud sebelum segala nya ada ; sebagai mana tertera dalam taurat ,injil dan alquran bahawa awal allah berupa zat yang melayang di ruang kosong lalu allah jadikan nur muhamat berupa cahaya ; sebagai mana ada nya allah bi lah kita belajar hakikat bahawa segala yang ada adalah allah ; sebagai mana melihat sesuatu yang bergerak itu adalah pergerakan allah; sebagai mana melihat mahluk itu adalah mahluk allah ; hakikat mahluk tak ujud yang ujud allah ,. contoh; seorang ahli ibadah sedang dalambilik sulup dan sedang berwirik dan telah berhari hari namun takdir allah ahli ibadah akan bertemu dengan seorang di suatu tempat sekian waktu pada hari itu ;hati bagai mana khusuk sedang berwirik tiba tiba berbisik untuk berhenti berwirik dan keluar ketempat yang allah tetapkan dalamkitab takdir; dan sebagai mana kuat iman kaki tetap melangkah kerna bisikan hati kerna nafsu ; sebagai mana allah tetap kan takdir sebegitu lah perjalanan ahli ibadah; hakikat iblis tiada yang ada adalah allah allah lah yang datang kan iblis untuk menggerakkan hati dan akal lalu kaki menurut sebagai mana yang allah tetapkan; bila melihat melalui hati hakikat setiap mahluk alam tidak ujud yang ujud adalah allah ; melihat dengan pandagan allah ,, mendengar dengan pandangan allah; berkata dengan kata kata allah;sebagai mana jelas setiap mahluk tiada ujud yang ujud allah dan setiap suatu bergerak melangkah hanya dengan takdir allah yang mana hakikat allah lah yang menjalankan insan atas dunia ini ; allah berfirman;Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?Bahwa Nabi saw. bersabda: Sesungguhnya Allah telah menentukan kadar nasib setiap manusia untuk berzina yang pasti akan dikerjakan olehnya dan tidak dapat dihindari. Zina kedua mata ialah memandang, zina lisan (lidah) ialah mengucapkan, sedangkan jiwa berharap dan berkeinginan dan kemaluanlah (alat kelamin) yang akan membenarkan atau mendustakan hal itu. (Shahih Muslim No.4801) "Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Robbku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata:"Saya tidak suka kepada yang tenggelam." (QS.Al-An'am [6]: 76).jelas bahawa dari ayat ayat di atas dan hadis rasulullah bahawa tak ada satu pun mahluk yang ujud atas dunia ini yang ujud pada hakikat adalah allah ; dengan kudrat dan iradat allah dengan takdir qadak dan qadar allah; Rasulullah saw. bersabda:

 Pernah Adam dan Musa saling berdebat. Kata Musa: Wahai Adam, kamu adalah nenek moyang kami, kamu telah mengecewakan harapan kami dan mengeluarkan kami dari surga. Adam menjawab: Kamu Musa, Allah telah memilihmu untuk diajak berbicara dengan kalam-Nya dan Allah telah menuliskan untukmu dengan tangan-Nya. Apakah kamu akan menyalahkan aku karena suatu perkara yang telah Allah tentukan empat puluh tahun sebelum Dia menciptakan aku? Nabi saw. bersabda: Akhirnya Adam menang berdebat dengan Musa, akhirnya Adam menang berdebat dengan Musa. (Shahih Muslim No.4793)

 TENTANG ZAT ALLAH Dalam ilmu tauhid hakiki, ditetapkan bahwa yang disebut Zat Allah itu mengacu pada Nur Ilahi(Q.S. Nur:35, Al-Fusilat:54, Asy-Syura:11, Al-Baqarah:115). Zat Allah / Nur Ilahi ini juga mengacu pada ruh setiap bani Adam(Al-Hijr:29, Al-Insan:1, Az-Zariyat:20-21) Jadi Zat Allah yang meliputi sekalian alam itu disebut Nur Ilahi,Manakala Zat Allah yang ada pada diri manusia itu disebut ruh Ruh dan Nur Ilahi ini Zat Allah yang sama, bukan berbeda*. Ruh dan Nur Ilahi ini esa, bukan becerai.Itu-itulah juga. Hanya pada manusia itu sebutannya ruh(sila lihat Q.S. Nur:35, Menunjukkan Nur Ilahi itu meliputi "luar-dalam") Zat Allah bersifat Mahasuci, maka Zat / roh yang ada pada manusia itu disebut Ruh al-Quds atau Ruhul Qudus,Ruh yang bersifat Mahasuci. ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺳَﻮَّﻳۡﺘُﻪُ ۥ ﻭَﻧَﻔَﺨۡﺖُ ﻓِﻴﻪِ ﻣِﻦ ﺭُّﻭﺣِﻰ ﻓَﻘَﻌُﻮﺍْ ﻟَﻪُ ۥ ﺳَـٰﺠِﺪِﻳﻦَ "

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruhKu, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud." (Al-Hijr: 29) Allah meniupkan ruh (Zat-Nya) pada jasad Adam. Jelas sekali Allah itu bukan berupa Zat. "Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki." (Q.S. Nur:35) Apakah ALLAH itu NUR? Tentu tidak. Zat Allah = Nur Ilahi = Roh Qudus Tuhan dengan Cahaya-Nya ( roh ) tentulah Esa, tetapi Cahaya Tuhan itu, bukan Tuhan. Tuhan bukan berupa Cahaya Zat Allah = ruh (pada manusia). Allah bukan berupa ruh. Pada manusia itu ada Zat Allah, tapi manusia bukan Allah. I'tibar mendekatkan paham: Matahari dengan cahayanya esa. Maksud esa, antara matahari dengan cahaya tidak ada jarak-antara.

Begitulah esanya ruh dan tubuh kita. Matahari dengan cahayanya esa, tapi tidak seorang pun menyatakan sinar yang memantul di dinding rumah itu sebagai matahari. Tetapi orang memandangnya sebagai sinar cahaya matahari. Tubuh kita esa dengan ruh Ruh / Nur Ilahi/Zat Allah/Cahaya Tuhan juga esa dengan Pemilik Cahaya Sebab dikatakan kaum arif billah: Mengaku diri Tuhan, kafir. Tidak mengaku esa dengan Tuhan, kufur Allah = ismu Zat, nama bagi Zat. bukan ismu-Rabb. "Tidak ada yang setara dengan Dia" (Al-Ikhlas:4) "Tidak ada yang seumpama dengan Dia." (Ash-Shura:11) kalau makhluk berupa zat-sifat-asma-af`al. Tuhan juga berupa zat-sifat-asma-af`al, maka sama jugakah umpama makhluk dan Tuhan? Kalau makhluk itu wujud zat-sifat-asma-af'al Allah, lalu Allah itu wujuf zat-sifat-asma-af'al siapa? Ada yang mendahului Allah maka itu mustahal Tuhan tidak bernama, sebelum ada ciptaan, siapa yang mau menyebut-Nya Tuhan? Setiap makhluk ada nama, dari Pemberi Nama. Tuhan tidak ada yang memberi nama, kecuali Diri-Nya sendiri memberi nama(untuk keperluan makhluk) Sebab esa Tuhan dg Nur/Zat-Nya, Allah menyebut Diri-Nya dengan sebutan Zat-nya, yaitu "Allah". Tapi tetap bahwa Tuhan itu bukan Zat JIKA TUHAN ITU BUKAN ZAT, MAKA APALAH ALLAH ITU? Maka Rabbul Izzati itulah Zat-nya Zat. Terlebih Maha Meliputi, Terlebih Laysakamitslii syaiun daripada Zat ciptaan-Nya. Zat-nya zat, berarti bukan zat. Zat-Nya saja sudah bersifat tiada seumpama, apalagi Tuhan, Rabbul Izzati. Itu sebabnya ada perkataan, "Jangan kau pikirkan tentang Zat Allah," Bukan tidak boleh, tapi memang mustahil mengenal Zat guna pikiran. Ini baru soal Zat-Nya, apalagi jika memikirkan Tuhan sekalian Zat/Rabbul Izzati yang terlebih Maha Lasyakamitslihisyaiun. 

(AWALUDDIN MA'RIFATULLAH)* Artinya: awal agama mengenal Allah. Hakikat Nur Muhammad telah disampaikan bahwa Muhammad itu merupakan Nuryang terpancar dari Zat Tuhan. Nur Muhammad adalah yang pertama diciptakan dan merupakan roh dari segala makhluk. Sehingga tidak ada makhluk tanpa adanya Nur Muhammad karena dengan Nur Muhammad inilah Allah SWT melahirkan secara nyata sifat ketuhanan – Nya dalam diri setiap makhluk ( bukan Zat ) Sekarang kita akan mencoba melanjutkan kajian tentang Hakikat Nur Muhammad dalam bentuk pemahaman lanjutan [ sebelumnya perlu disampaikan bahwa, kajian ini merupakan lanjutan dari kajian sebelumnya ( Hakikat Nur Muhammad dan Hakikat Zat Pada Sifat Allah ) ,mohon tidak melanjutkan memahami kajian ini apabila belum memahami secara benar apa yang dimaksud dengan kajian tersebut ] Hidup kita karena hidupnya Muhammad dalam alam batang tubuh kita, Hidupnya Muhammad dalam batang tubuh kita karena Hayat – Nya Allah Taala. Jika tidak hidup Muhammad dalam alam batang tubuh kita, maka tidak nyata Hayat – Nya Allah Taala. Bukan kita yang hidup melainkan Muhammad. Tahu kita karena tahunya Muhammad pada hati kita, Tahunya Muhammad pada hati kita dengan Ilmu – Nya Allah Taala. Jika tidak tahu Muhammad pada hati kita, maka tidak nyata Ilmu – Nya Allah Taala. Bukan kita yang tahu melainkan Muhammad. Kuasa kita karena kuasa Muhammad pada tulang kita, Kuasanya Muhammad pada tulang kita dengan Qudrat – Nya Allah Taala. Jika tidak kuasa Muhammad pada tulang kita, maka tidak nyata Qudrat – Nya Allah Taala. Bukan kita yang kuasa melainkan Muhammad. Berkehandak kita karena kehendak Muhammad pada nafsu kita, Berkehendaknya Muhammad pada nafsu kita dengan Iradat – Nya Allah Taala. Jika tidak berkehendak Muhammad pada nafsu kita, maka tidak nyata Iradat – Nya Allah Taala. Bukan kita yang berkehendak melainkan Muhammad. Mendengar kita karena pendengaran Muhammad pada telinga kita, Mendengarnya Muhammad pada telinga kita dengan Samik – Nya Allah Taala. Jika tidak mendengar Muhammad pada telinga kita, maka tidaklah nyata Samik – Nya Allah Taala. Bukan kita yang mendengar melainkan Muhammad. Melihat kita karena penglihatan Muhammad pada mata kita, Melihatnya Muhammad pada mata kita dengan Basir – Nya Allah Taala. Jika tidak melihat Muhammad pada mata kita, maka tidaklah nyata Basir – Nya Allah Taala. Bukan kita yang melihat melainkan Muhammad. Berkata kita karena Berkatannya Muhammad pada lidah kita, Berkatanya Muhammad pada lidah kita dengan Kalam – Nya Allah Taala. Jika tidak berkata Muhammad pada lidah kita, maka tidaklah nyata Kalam – Nya Allah Taala. Bukan kita yang berkata melainkan kata Muhammad. Awal Muhammad adalah Nurani, menjadi nyawa atau roh dalam alam batang tubuh kita. Akhir Muhammad itu adalah Ruhani, menjadi hati dalam alam batang tubuh kita. Zahir Muhammad itu adalah Insani, menjadi rupa atau wajah dalam alam batang tubuh kita. Batin Muhammad itu adalah Rabbani, menjadi ujud dalam alam batang tubuh kita