Sabtu, 13 Januari 2018

tauhid allah itu ada dahulu kekal;

Hakikat Tauhid dan Kedudukannya Dalam Agama Firman Allah Subhanahu wata’ala :“Tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah([1]) kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat, 56).“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyerukan) “Beribadalah kepada Allah (saja) dan jauhilah thoghut”([2]).” (QS. An Nahl, 36).“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kecuali hanya kepada-Nya, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan, dan ucapkanlah : “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” (QS. Al Isra’, 23-24).“Katakanlah (Muhammad) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu “Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tuamu, dan janganlah kamu membunuh anak anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan perbuatan yang keji, baik yang nampak diantaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun dia adalah kerabat(mu). Dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat. Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al An’am, 151-153). sebagai mana kisah nabi ibrahim pada mula pencarian allah dan penggesaan allah esa dan satu;Nabi Ibrahim Mencari Tuhan?Benarkah Nabi Ibrahim pernah mencari Tuhan? katanya, itu ada di Quran, surat al-An’am ayat 75 – 80;Orang-orang musyrik yang disebutkan oleh Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, asalnya dari dua kelompok kaum; kaumnya Nabi Nuh dan kaum Nabi Ibrahim. Kaum Nuh, asal kesyirikan mereka adalah pemujaan terhaadap kuburan orang-orang shalih. Lalu mereka buat patung-patung berbentuk wajah orang soleh itu, kemudian mereka menyembahnya. Sementara kaum Ibrahim, asal kesyirikan mereka adalah peribadaatan kepada bintang-bintang, matahari, dan bulan. (at-Tawassul wa al-Wasilah, 2/22). Sementara berhala yang diagungkan umatnya Ibrahim adalah simbol dari benda-benda langit yang mereka sembah. Mereka membuat berhala-berhala, melambangkan benda-benda langit itu. Sebagaimana orang musyrikin yang mengagungkan orang soleh, mereka membuat patung yang melambangkan orang shaleh yang mereka sembah. Kami tidak tahu, apakah ini ada hubungannya dengan lambang-lambang zodiak yang menjadi tradisi Babylonia dan Yunani kuno.Ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya, Azar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan.” Demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.” Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. (QS. al-An’am: 74 – 78) Ayat ini dipahami sebagian umat islam bahwa Ibrahim mencari tuhan, sebelum di utus menjadi Nabi dan Rasul.Yang benar, bahwa Ibrahim ‘alaihis shalatu was salam, pada posisi itu, beliau sedang berdebat dengan kaumnya. Beliau menjelaskan kebatilan aqidah mereka dan kesyirikan mereka, berupa penyembahan terhadap haikal dan patung. Allah menyebutkan di bagian pertama, Ibrahim berdebat dengan ayahnya untuk menjelaskan kesalahannya menyembah berhala. (Tafsir Ibnu Katsir, 3/292)Itulah hujjah yang kami berikan kepada Ibrahim untuk menjawab kesyirikan kaumnya. (QS. al-An’am: 83)Karena kaumnya menyembah benda-benda langit, maka permisalan yang digunakan Ibrahim adalah benda langit yang paling nampak, matahari, bulan dan bintang. Kita sangat memahami, Ibrahim tahu matahari pasti tenggelam, bulan pasti tenggelam, bintang pasti hilang. Sejak kecil, beliau tentu sudah tahu itu. Sehingga tidak mungkin, pengalaman harian semacam ini baru disadari untuk dijadikan momen mencari tuhan. Ketiga, pencarian tuhan, tidak mungkin dilakukan hanya dengan melihat alam. Manusia tidak mampu mengenal siapa tuhannya, hanya dengan melihat, matahari, bulan, atau bintang. Justru semacam ini menjadi sumber kesyirikan. Manusia mengenal tuhannya karena hidayah dari Allah. Dan ini ditunjukkan dalam salah satu ayat di atas. Ketika semuanya hilang dan tidak berbekas, Ibrahim berdoa, قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ Dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.” (QS. al-An’am: 77). Dari mana Ibrahim bisa berdoa kepada tuhannya, padahal proses pencarian tuhan itu belum usai. Ini menunjukkan bahwa Ibrahim ketika menyampaikan perumpamaan itu, beliau telah mengenal tuhannya.Allah menegaskan bahwa Ibrahim telah mendapatkan bimbingan dari-Nya untuk mentauhidkan Rabul Alamin. Ibrahim mengenal Allah karena hidayah dari Allah. Allah menegaskan, وَلَقَدْ آتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ * إِذْ قَالَ لأبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ “Sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. ( ) (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?” (QS. al-Anbiya: 51 – 52) Ayat ini menjadi salah satu alasan al-Hafidz Ibnu Katsir untuk menyanggah keyakinan di atas, وكيف يجوز أن يكون إبراهيم الخليل ناظرا في هذا المقام، وهو الذي قال الله في حقه: { وَلَقَدْ آتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ Bagaimana mungkin Ibrahim Khalilullah mencari tuhannya ketika itu, sementara Allah menegaskan tentang beliau, (yang artinya): “Sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelumnya…” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/292). Kelima, bahwa semua manusia ketika dilahirkan, dia memiliki fitrah mengenal penciptanya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ Semua anak dilahirkan di atas fitrah. (HR. Bukhari 1385 & Muslim 6926) Tak terkecuali Ibarhim, beliau juga memiliki fitrah mengenal Allah. sebagai mana allah itu ujud bermaksut ada adanya allah tiada nya mahluk seawal awal pencarian allah itu bersifat ada di ruang yang gelap dan kosong tampa ada nya keujudan sesuatu atau apa apa jua mahluk; dari hakikat allah ada melihat dari sudut ujud setiap mahluk yang bergerak dan berjalan adalah atas kudrat allah; adalah sifat yang harus ada pada Dzat Allah swt. sebagai kesempurnaan bagi-Nya. Sifat-sifat wajib Allah tidak dapat diserupakan dengan sifat-sifat makhluk- Nya maka sifat Allah wajib diyakini dengan akal (wajib aqli) dan berdasarkan Al Qur’an dan hadits Nabi saw. (wajib naqli). Menurut para ulama kalam sifat wajib bagi Allah itu ada 20 sifat, sebagai berikut. 1) Wujud artinya Ada 2) Qidam artinya Dahulu 3) Baqa’ artinya Kekal) dari sudut ilmu sifat 20 allah itu ada dengan ada nya mahluk bererti tiap yang ada adalah allah dan hakikat mahluk tidak ujud melaikan yang ujud adalah allah; sebagai mana qidam yang bermakna dahulu yakni tiada permulaanb dari ayat anam 77 ketika mana nabi ibrahim berdebat de ngan kaum nya tenta ng tuhan yang satu dan esa makia allah itu dahulu tiada nya permulaan ; dari awal tiada per mulaan hi ngga akhir nya setelah bumi di hacur luluh selama 40tahun kembali dahulu sebagai mana sifat 20 allah itu dahulu yakni qidam ;  sebagai mana ada dan dahulu nya allah allah itu berbentuk kekal tiada nya sebagai mana mahluk yang mana hidup dengan permulaan tiada lalu ada dan kemudian ada ,.,.yakni awal tiada kemudian hidup atas bumi dan kemudian mati yakni tiada ,. allah tiada bersifat ada allah kekal hingga mana bu mi dan seluruh alam hancur sebagai mana mahluk yang hidup dan mati saling ganti berganti,. allah kekal selama lamanya;

 sebagai mana di awal pencarian nabi ibrahim lalu nabi muhamat sawt kedua dua nya hamba allah yang mana telah allah tetapkan kitab takdir nya dan  perjalanan hidup nya atas dunia ini;Maka Allah SWT adalah Dzat yang bersifat Wujud (Ada), Qadim (tidak ada permulaan-Nya), Kekal, dan berbeda dengan makhluk secara mutlak”Sifat Wajib Allah yang ke tiga dari duapuluh tersebut adalah sifat “BAQA” Allah kekal Arti baqa’ adalah bahwa Allah SWT senantiasa ada, tidak akan mengalami kebinasaan atau rusak. Dalam al-Qur’an disebutkan: كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ (الرحمن، 26-27〉 القرآن “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. ar-Rahman: 26-27). Allah SWT adalah Dzat yang Maha Mengatur alam semesta. Dia selalu ada selama-lamanya dan tidak akan binasa untuk mengatur ciptaan-Nya itu. Hanya kepada-Nya seluruh kehidupan ini akan kembali. Firman Allah SWT : كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلاَّ وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (القصص،88 〉 القرآن “Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. al-Qashash: 88) Kebalikannya adalah sifat Fana (فناء), yang berarti mustahil Allah SWT tidak kekal.