Jumaat, 23 Mac 2018

qadok dan qadar

Antara Qodho’ dan Qodar
     Dalam pembahasan takdir, kita sering mendengar istilah qodho’ dan qodar. Dua istilah yang serupa tapi tak sama. Mempunyai makna yang sama jika disebut salah satunya, namun memiliki makna yang berbeda tatkala disebutkan bersamaan.[1] Jika disebutkan qodho’ saja maka mencakup makna qodar, demikian pula sebaliknya. Namun jika disebutkan bersamaan, maka qodho’ maknanya adalah sesuatu yang telah ditetapkan Allah pada makhluk-Nya, baik berupa penciptaan, peniadaan, maupun perubahan terhadap sesuatu. Sedangkan qodar maknanya adalah sesuatu yang telah ditentukan Allah sejak zaman azali. Dengan demikian qodar ada lebih dulu kemudian disusul dengan qodho’.[2]

Sedangkan dalil dari As Sunnah, di antaranya adalah sabda Rasulullah shalallhu ‘alaihi wa salam, كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ “… Allah telah menetapkan takdir untuk setiap makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi”[3] takdir telah allah azawajalla tetapkan sejak azali berupa kitab tersimpan di lauh mahfus ,.,. namun usaha adalah satu penyebab sebagai mana takdir seseorang dengan ajal kematianya ,. jelas allah sawt telah menulis ajal seseorang sejak azali yakni 500tahun terdahulu sebelum segalanya,.., namun sebelum kematian datang menjemput allah adakan penyebab dan usaha penyebab datang dari mahluk kematian datang dari allah sebagaimana contoh,.,.
 Ajal si polan telah tertulis dalam kitab takdir di lauh mahfus pada hari jam bulan dan tahun sebagai berikut tempat dan kawasan ia nya mati,.,. namun penyebab kematian datang dari usaha seseorang itu sendiri sebagai mana seseorang akan tergoda melihat wanita seksi di hadapan mata sebegitu jua lah dengan tempat kematian seseora ng yang telah allah takdir kan ,. sebagai mana seseorang terasa kehausan dan kelaparan yang menggoda sebegitu jua lah seseorang akan di timpa sesuatu penyakit yang membuat ia nya mati ,.., terasa atau teringgin untuk makan atau minum sesuatu yang membolehkan seseora ng mendapat penyakit yang mana penyebab kematian seseorang sebagai mana tertulis dalam kitab takdir,.., dan dari situ lah kematian tiba dan penyebat atas usaha seseorang yang bakal ajal sebagai mana allah tetapkan,..,.,
 Atau contoh kedua takdir tentang jodoh seseorang akan bernikah atau berkahwin pada sekian tempat waktu dan jam namun penyebab dari usahanya yang akan membawa seseora ng itu ketempat dan terjadi nya majlis per nikahan atau nikah itu pada waktu dan masa yang telah allah azawajalla tetapkan dalam kitab takdir nya,.,.,. usaha adalah bagi menjayakan takdir seseorang ,.,.
sebagai contoh seseorang bertemu seseorang wanita di jalanan atau pasaraya atau kawasan kawasan taman permainan dan dari usaha nya untuk berkenalan maka takdir allah tetap sebagai mana telah allah tulis kan sejak azali allah tak tulis takdir jodoh seseorang dari usaha perkenalan tapi allah tulis takdir seseora ng waktu jam masa dan tempat ia nya bernikah ., usaha lah yang menjayakan waktu jam masa terjadi nya takdir allah sebagai mana telah allah tuliskan,.,. dari sini jelas bahawa tiap sesuatu itu takdir allah tetap sejak azali namun sebelum berlaku sesuatu itu maka usaha adalah penyebab bagi menjayakan takdir ketentuan allah sawt,.,.
sebagai mana ayat quran dan hadis,.

 Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.”[11] [12]“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu…” (QS. Al Hadiid:22-23).[13]