Selasa, 19 Disember 2017

al-quran itu mahluk;

  1. bermula zaman setelah rasulullah saw wafat ;ketika mana zaman para sahabat dan tabien di mana quran ditafsir dan di bukukan semula ;yang mana ketika zaman rasulullah semua itu di rujuk akan sahabat pada rasulullah sendiri;
  2. al-quran adalah mahluk allah sawt ; di turunkan jibrail beransur ansur pada rasulullah dari lauh mahfus berupa lisan atau perkataan perkataan; 
  3. ada nya pendapat yang melawan dan memba ntah bahawa quran bukan mahluk allah dan ia nya qalam yang mana sebagai mana jibrail turunkan pada rasulullah; qalam allah yakni perkataan perkataan yang turun dari lauh mahfus ke atas baginda rasulullah saw; namun pandagan ini hanya sekelompok gologan buta yang tak miliki pengaruh kuat di tanah tanah arab dan sahabat sahabat rasulullah dan tabien,./.,. 
  4. jika setiap yang ada di bumi itu adalah mahluk sebagai mana ayat quran 
  5. Sungguh Aku telah menciptakan langit dan bumi serta segala yang ada diantara keduanya dalam 6 hari, dan Aku tidak merasa penat. (QS. Qaf: 38).
  6. ayat ini jel;as bahawa setiap sesuatu itu adalah mahluk baik ia nya pohon batu kayu binatang anggin air dan termasuk jua quran yang ada di tanggan anda sekarang ,.,. jika quran itu qalam maka ayat ini telah di salah tafsir dan allah tak menurunkan ayat yang menyatakan bahawa setengah dari nya ada lah bukan mahluk ciptaan allah sawt; 
  7. Abu Dzar ra. ia berkata, “Saya pernah hadir dalam sebuah pertemuan disisi Nabi saw. Saya melihat beberapa batu kerikil yang dipegang beliau mengucapkan tasbih. Saat itu di antara kami ada Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Mereka semua yang hadir dipertemuan itu mendengar tasbih benda tersebut. Kemudian batu-batu kerikil itu oleh Nabi saw. diserahkan kepada Abu Bakar yang dapat didengar oleh semua orang yang hadir dipertemuan itu. Ketika diberikan lagi kepada beliau kerikil itupun masih tasbih ditangan beliau, kemudian beliau menyerahkan kepada Umar dan batu kerikil itu pun mengucapkan tasbih ditangannya yang bisa didengar oleh semua orang yang hadir dipertemuan. Kemudian Nabi saw. menyerahkan kepada Utsman dan ia pun mengucapkan tasbih ditangannya. Tetapi ketika oleh Nabi batu kerikil itu diserahkan kepada kamu, ia tidak mau bertasbih bersama seorang pun di antara kami. (Diriwayatkan oleh Thabrani dalam buku haditsnya Al-Mu’jamul Ausath nomor 1244 dan oleh Abu Nu’man dalam Dalaa’ilun Nubuwwah I/404.)
  8. jika setiap mahluk ciptaan allah akan berzikir memuji allah quran jua adalah mahluk; yang setiap saat menanti di baca;dan di belai sebagai mana rasulullah menyatakan sesiapa yang memuliakan quran allah akan memuliakan diri nya;
  9.  Jadi menurut Asyairoh firman Allah itu tanpa suara dan huruf serta bahasa, karena itu adalah sifat-sifat makhluk. Karenanya jelas bahwa al-Qur’an yang berisi huruf dan bahasa adalah makhluk
  10. Dan madzhab Ahlus Sunnah bahwasanya Al-Qur'an Al-Kariim;bahwasanya al-Qur'an makhluk dan dimaksudkan adalah lafal yang kita baca kecuali dalam pengajaran. Karena bisa jadi bisa disangka bahwasanya al-Qur'an –yaitu kalam nafsi- adalah makhluk" (Syarh Jauharat At-Tauhiid 173/
  11. "Ibarat-ibarat ini (lafal-lafal Al-Qur'an-pen) adalah firman Allah" yaitu adalah makhluk (ciptaan) Allah. Dan kami (Asyaa'iroh-pen) tidaklah mengingkari bahwasanya ibarat-ibarat tersebut adalah makhluk Allah,akan tetapi kami tidak mau menamakan Pencipta Al-Kalam berbicara dengan kalam tersebut. Maka kita telah sepakat dalam maknadan kita berselisih –setelah kesepakatan kita- dalam hal penamaan" (Al-Irsyaad Ilaa Qowaathi'il Adillah fi Ushuul Al-I'tiqood 116-117)
  12. Kalau seandainya musuh-musuh kami (yaitu Mu'tazilah-pen) sepakat dengan kami tentang bahwasanya al-kalaam (perkataan) yang nampak adalah makna di Dzat selain ibarat-ibarat yang diungkapkan lisan, dan bahwasanya al-kalam (perkataan) yang ada di alam ghaib tegak/berada di Dzat/diri Allah selain ibarat-ibarat yang kita baca dengan lisan kita dan yang kita tulis di mushaf-mushaf, maka tentunya mereka akan bersepakat dengan kita pada kesatuan makna.Akan tetapi al-kalam adalah lafal yang musytarok (mengandung makna berbilang-pen) dan tidak datang pada satu makna saja, maka apa yang ditetapkan oleh musuh (Mu'tazilah) (yaitu Al-Qur'an-pen) sebagai kalam maka Asya'iroh juga menetapkannya dan sepakat bahwasanya kalam tersebut banyak dan muhdats (baru) serta makhluk.
  13. Nukilan bahwa Asyairoh sepakat dengan Muktazilah dan tidak mengingkari mereka dalam perihal Al-Qur’an adalah Makhluk

Tiada ulasan:

Catat Ulasan