Kata takdir berasal dari bahasa Arab yang merupakan bentuk mashdar dari
qaddara(قدر) yang berarti kemampuan dalam melakukan sesuatu. Dalam kamus Lisan al Arab, kata qadara berarti salah satu sifat Allah yang mampu melakukan apa saja yang Ia kehendaki. Takdir berkaitan erat dengan qadha dimana takdir adalah perwujudan dari qadha Allah dalam memutuskan sesuatu.[1] Sedangkan dalam kamus Mu’jam Maqayis al Lughah, kata qadara berarti sampainya sesuatu. Qadr juga berarti ketetapan Allah terhadap sesuatu yang telah sampai waktunya dan merupakan penjelasan dari kehendakNya terhadap sesuatu itu.[2] Dan dalam kamus al Munawwir, kata qadr berarti ukuran, kuasa dan kemampuan.
takdir tiap manusia telah tetap akan tetap;i ketetapan allah boleh berubah mengikut hak pemilik bumi dan langgit;
Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina. Kemudian Kami tempatkan dia di dalam tempat yang kokoh (rahim). Sampai waktu yang ditentukan. Lalu Kami tentukan (bentuknya), Kami adalah sebaik-baik yang menentukan”.
setiap islam muknin mukminin wajib mempercayainya ; namun tahap kepercayaan tiap seseorang dalam takdir allah mengikut tahap keimanan seseorang;
sebagai mana rasulullah bersabda iman miliki tiga tahap ;pertama yakin kedua inol yakin ketiga imal yakin ;
tahap pertama tahap iman orang awam
tahap kedua tahap iman orang khususan
dan yang ketiga tahap tabien rasul nabi dan wali wali allah;
sebagai mana kisah nabi ayob percaya bahawa setiap penyakit datang dari allah dan allah lah yang menyembuhkan nya; sebagai mana jelas allah terangkan;
Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaih-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” (QS. Shad: 44)
Nabi Ayub AS menderita penyakit kronis dalam jangka waktu yang cukup lama, dimana sahabat dan familinya telah melupakannya, maka ia menyeru Rabbnya, “(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (Al-Anbiya’: 83). Dikatakan kepadanya, “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum.” (Shad: 42). Nabi Ayub AS menghantamkan kakinya, maka memancarlah mata air yang dingin karena hantaman kakinya tersebut. Dikatakan kepadanya, “Minumlah darinya serta mandilah.” Nabi Ayub AS melakukannya, maka Allah Ta’ala menghilangkan penyakit yang menimpa bathinnya dan lahirnya.
Anas bin Malik RA dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Sesungguhnya Nabi Allah Ayub AS diuji dengan musibah tersebut selama delapan belas tahun, dimana keluarga dekat serta keluarga yang jauh telah menolaknya dan mengusirnya kecuali dua orang laki-laki dari saudara-saudaranya, dimana keduanya telah memberinya makan dan mengunjunginya. Kemudian pada suatu hari salah seorang dari kedua saudaranya itu berkata kepada saudaranya yang satu, ‘Demi Allah, perlu diketahui, bahwa Ayub telah melakukan suatu dosa yang belum pernah dilakukan siapa pun di dunia ini.’ Sahabatnya itu bertanya, ‘Dosa apakah itu?.’ Saudaranya tadi berkata, ‘Selama delapan belas tahun Allah tidak merahmatinya, sehingga menyembuhkannya dari penyakit yang dideritanya.’ Ketika keduanya mengunjungi Ayub AS maka salah seorang dari kedua saudaranya itu tidak dapat menahan kesabarannya, sehingga ia menyampaikan pembicaraan tersebut kepadanya. Ayub AS menjawab, ‘Aku tidak mengetahui apa yang kamu berdua bicarakan, kecuali Allah Ta’ala telah memberitahukan; bahwa aku diperintah untuk mendatangi dua orang laki-laki yang berselisih supaya keduanya mengingat Allah. Sedang aku akan kembali ke rumahku dan menutup diri dari keduanya, karena merasa benci mengingat Allah, kecuali dalam kebanaran.’”
Tiada ulasan:
Catat Ulasan