Sabtu, 6 Januari 2018

hakikat allah(ilmuan allah)

Foto



  1. kisah hakikat ilmuan allah(sawt);
  2. bermula adam,tiada tanah bumi;
  3. berakhir dzat allah berupa nur cahaya (muhamat)
  4. maka lahir lah ilmu hakikat allah aku,aku allah, malah lebih dekat allah itu dari denyut nadi dari aku dengan allah;
Ketika mana bumi kehilagan seorang hamba dan nabi allah isa alaihisallam di angkat naik ke langgit maka 500tahun sebelum kelahiran nabi muhamat saw. waktu itu insan hidup dengan beragama fitrah; sebagai mana umat terdahulu setelah nuh di bawa naik kebahtera dan mendarat di tengah tengah kabbah ; kehidupan menjadi insan yang hamba dan rakyat jelata terus dengan kerjaya seharian yang memburu terus dengan pemburuan dan yang bercucuk tanam terus dengan tanaman dan yang menternak terus dengan ternakan mereka . dan sebagai rakyat raja dan tenteranya dengan kehidupan pemerintah di waktu itu pembesar dan tenteranya hidup dengan kutipan hasil dari rakyat dan setiap malam hari pembesar dan tenteranya akan berhibur dengan wanita wanita cantik dan tarian tarian mengasikkan hingga pagi hari dan arak dan syisya adalah minun harian dan hidagan setiap malam; setiap malam hari dan setiap hari ,hingga mana kehidupan tampa sebarang penyembahan antara rakyat hamba jelata dan raja pembesar dan pemerintah sebagai ketua negara; jelas bahawa hidup pada waktu bagai kan siang dan malam antara kehidupan rakyat dengan pembesar negara tampa ada agama dan sebarang bentuk penyembahan ; zaman itu di namakan zaman fitrah; jelas dalam kehidupan seharian rakyat jelata dengan pembesar dan raja pentakbir negeri; sehingga mana allah turunkan ujian keatas mereka selama berpuluh tahun sebagai menguji kesabaran dan ketaatan hamba pada pem besar atau raja; tanaman tidak menjadi dan busuk di manak haiwan liar; ternakan tidak membiak dan sakit serta kurus tiada berzat tubuh nya; buruan sering kali tiada terkena dan hidupan haiwan di hutan makin berkurang akibat perpindahan ke arah tanah subur; lalu terjadilah perbagai andaian dari rakyat dan mengadu akan kehidupan bagai terkena sumpahan dari tuhan dewa dewa atau tuhan yang menghidupkan tumbuhan haiwan dan seluruh kehidupan; waktu itu tuduh menuduh saling antara satu sama lain antara rakyat jelata sesama hamba ;dan pemerintah sesama pembesar ; kerna pendapatan seringkali tiada sebagai mana dahulu kala; waktu itu setiap manusia dalam kerisauan dan tercari cari ,wadah sebenar;maka lahir lah ilmu yakni akal insan ; akal atau ilmu lahir bila mana insan menerima wahyu atau pengajaran ;sebagai mana insan terdahulu menerima akal tentang allah atau ilmu allah azawajalla maka sehingga kini ilmu allah masih di rungkai dan tetap dengan penjelasan tersendiri;sebagai mana ayat ayat di bawah di turunkan keatas penduduk yang kering dengan ilmu allah hingga hidup atas dunia tampa tuhan sebenar; Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ´Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari padanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya, dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. [al-Hadîd/57: 4]. Menurut para mufasir, melalui wahyu pertama Al-Quran (Al-'Alaq 96:1-5), Tuhan menunjukkan dirinya sebagai pengajar manusia. Tuhan mengajarkan manusia berbagai hal termasuk di antaranya konsep ketuhanan. Umat Muslim percaya Al-Quran adalah kalam Allah, sehingga semua keterangan Allah dalam Al-Quran merupakan "penuturan Allah tentang diri-Nya."[26] Selain itu menurut Al-Quran sendiri, pengakuan akan Tuhan telah ada dalam diri manusia sejak manusia pertama kali diciptakan.[27] Ketika masih dalam bentuk roh, dan sebelum dilahirkan ke bumi, Allah menguji keimanan manusia terhadap-Nya dan saat itu manusia mengiyakan Allah dan menjadi saksi. Sehingga menurut ulama, pengakuan tersebut menjadikan bawaan alamiah bahwa manusia memang sudah mengenal Tuhan. Seperti ketika manusia dalam kesulitan, otomatis akan ingat keberadaan Tuhan. Al-Quran menegaskan ini dalam surah Az-Zumar 39:8 dan surah Luqman 31:32. Karena itu ada riwayat hadits yang melarang untuk memikirkan Allah, mengingat semua akal dan pikiran pasti tidak akan mampu menjangkaunya.[25] Berpikir yang diperintahkan di sini, seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Qayyim rahimahullahu, adalah yang bisa menimbulkan dua pengetahuan dalam hati dan berkembang daripadanya pengetahuan ketiga. [Miftah Dar al-Sa’adah hal 181] Hal itu menjadi jelas dengan contoh sebagai berikut. Apabila hati seorang muslim dapat merasakan akan kebesaran makhluk seperti langit, bumi, tahta kursi, ‘Arsy dan sebagainya, kemudian timbul dalam hatinya rasa ketidakmampuan memikirkan dan menjangkau semua itu, maka akan muncul pengetahuan ketiga yakni kebesaran dan keagungan Tuhan yang menciptakan jenis makhluk-makhluk tersebut yang tidak mungkin dapat diliput serta dicerna oleh akal pikiran. sehingga mana jelas dari ayat ayat allah maka ilmu allah merasuk qalbu rakyat jelata dan akhir nya muncul orang orang yang ingginkan dan dahagakan ilmu allah yakni ilmu ketuhanan; maka waktu itu terjadilah perbalahan antara rakyat hamba jelata dengan para pembesar negeri dan tentera di bawah pimpinan raja diwaktu itu; ketika itu ilmuan allah atau ilmuketuhanan menyerap masuk dan memberi ruang untuk rakyat dan hamba jelata berfikir akan perbuatan pembesar dan tentera yang mana menjadikan arak dan wanita menari adalah satu yang di larang oleh tuhan dan membawa kesengsaraan dalam kehidupan waktu itu;Konsep tentang Allah;Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa;Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. Perbandingan konsep Tuhan antar agama;Beberapa sarjana barat menyatakan bahwa Muhammad juga menggunakan istilah Allah dalam berkomunikasi dengan pagan Arab dan Yahudi atau Nasrani untuk menegakkan dasar umum dalam memahami nama Tuhan, sebuah klaim Gerhard Böwering menyatakan keraguan. Islam dengan tegas menolak kepercayaan Kristen bahwa Tuhan itu tiga pribadi dalam satu hakikat (lihat Tritunggal). Dalam konsepsi Islam tentang Tuhan, tidak ada kesetaraan antara Tuhan dan ciptaan. Kehadiran Tuhan dipercaya ada di manapun, dan tidak menjelma sebagai siapapun atau apapun.[33][14]Dalam konsep Islam, Tuhan disebut Allah dan diyakini sebagai Zat Maha Tinggi Yang Nyata dan Esa, Pencipta Yang Maha Kuat dan Maha Tahu, Yang Abadi, Penentu Takdir, dan Hakim bagi semesta alam.Tuhan dalam Islam tidak hanya Maha Agung dan Maha Kuasa, namun juga Tuhan yang personal: Menurut Al-Quran, Dia lebih dekat pada manusia daripada urat nadi manusia. Dia menjawab bagi yang membutuhkan dan memohon pertolongan jika mereka berdoa pada-Nya. Di atas itu semua, Dia memandu manusia pada jalan yang lurus, “jalan yang diridhai-Nya. Dari sini lah ilmuan allah terus menerus seawal nabi nuh hingga mana ibrahim ningga mana musa lalu isa dan akhir nya ilmuan bersifat allah yakni tuhan satu ; maka lahir lah ilmuan allah sebagai mana jelas setiap kaum atau bangsa akan memiliki tuhan nya sebagai mana waktu dahulu nya arab dengan tuhan nya yahudi dengan tuhan nya india dengan tuhan nya atau apa apa jua bangsa akan tetap di atas satu ilmuan ketuhanan namun hakikat allah itu satu bagi mentakbir setiap tanah air dan negara ; tuhan orang arab atau tuhan bumi dan langgit ; yang jelas setiap kali di bungkarkan ilmu allah maka lahir lah berbagai aliran sebagai mana ilmuan allah bila makin di kaji maka jelas allah ana dan ana allah maka hakikat allah tiada melaikan allah yang di lihat allah yang berkata allah yang menjadikan allah yang mentakdirkan., sebagai mana kisah setelah zaman isa 500tahun manusia hilang ilmuan tentang allah; dan manusia hidup atas agama fitrah tampa tuhan baik tuhan esa allah tuhan langgit dan bumi atau tuhan berhala sembahan arab kuno dan india berhala berhala nenek moyang lata dan uzai; namun hakikat allah di mana allah itu terlebih dengan dengan kamu malah lebih dekat dari degupan jantung kamu; hakikat allah aku dan aku allah itu lah ilmuan allah hakikat allah ada ada allah terlebih dengan dari denyut nadi kamu; Tuhan dalam Islam “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” (Ath Thuur 35) mula-mula dijadikan oleh Allah adalah Nur Muhammad SAW yang kemudiannya dari Nur Muhammad inilah Allah jadikan roh dan jasad alam semesta. Bermula dari Nur Muhammad inilah maka semua roh termasuk roh manusia diciptakan Allah sedangkan jasad manusia diciptakan mengikut jasad Nabi Adam as. Karena itu, Nabi Muhammad Saw adalah ‘nenek moyang roh’ sedangkan Nabi Adam as adalah ‘nenek moyang jasad’. Hakikat dari penciptaan Adam as sendiri adalah berasal dari tanah, tanah berasal dari air, air berasal dari angin, angin berasal dari api, dan api itu sendiri berasal dari Nur Muhammad. Sehingga pada prinsipnya roh manusia diciptakan berasal dari Nur Muhammad dan jasad atau tubuh manusia pun hakikatnya berasal dari Nur Muhammad. Jadilah kemudian ‘cahaya di atas cahaya’ (QS. An-Nuur 35), di mana roh yang mengandung Nur Muhammad ditiupkan kepada jasad yang juga mengandung Nur Muhammad. Bertemu dan meleburlah roh dan jasad yang berisikan Nur Muhammad ke dalam hakikat Nur Muhammad yang sebenarnya. Tersebab bersumber pada satu wujud dan nama yang sama, maka roh dan jasad tersebut haruslah disatukan dengan mesra menuju kepada pengenalan Yang Maha Mutlak, Zat Wajibul Wujud yang memberi cahaya kepada langit dan bumi, dan yang semula menciptakan, sebagaimana mesranya hubungan antara air dan tumbuhan, di mana ada air di situ ada tumbuhan, dan dengan airlah segala makhluk dihidupkan (QS. Al-Anbiya 30). Pengenalan terhadap hakikat Nur Muhammad inilah maqam atau stasiun yang terakhir dari pencarian akan makrifah kepada Allah, Martabat Nur Muhammad inilah martabat yang paling tinggi, dan pengenalan akan Nur Muhammad inilah yang menjadikan ilmu menjadi sempurna. Nur Muhammad mempunyai dua bentuk, yakni Nabi Muhammad yang dilahirkan dan menjadi cahaya rahmat bagi alam “tidaklah engkau diutus wahai (Muhammad Rasulullah Saw) melainkan menjadi rahmat bagi seluruh alam” dan yang berbentuk Nur. Tidak ada Tuhan selain Aku. Akulah hakikat DZAT yang Maha Suci, yang meliputi SIFAT-Ku, yang menyertai [ASMA] Nama-Ku, dan yang menandai [AF’AL] perbuatan-perbuatan-Ku .” “ Sesungguhnya AKU ini adalah ALLAH, TIDAK ADA TUHAN (yang hak) selain AKU, maka SEMBAHLAH AKU dan DIRIKANLAH SHALAT UNTUK MENGINGAT AKU ” [At -Thaahaa : 14] AKU = DZAT/Nurullah, SIFAT Laisa kamishlihi syaiun, Dzat yang tidak dapat diserupai oleh sesuatu apapun, tidak ada umpamanya. BILLA HAEFFIN, artinya tak berwarna dan tak berupa, tidak merah tidak hitam, tidak gelap tidak pula terang. BILLA MAKANIN, artinya tidak berarah tidak bertempat, tidak di barat tidak di timur, tidak di utara maupun di selatan, tidak di atas maupun di bawah. DZAT yang berdiri sendiri tanpa adanya ketergantungan kepada mahluk lain ciptaan-Nya, berbeda dengan manusia yang membutuhkan Allah, untuk bisa selamat di kehidupan Dunia dan Akhirat, adanya Alam semesta, Dunia, Arasy, Malaikat, Idajil/Azazil, Iblis, Setan, Jinn dan Manusia, dan semua ciptaan-Nya yang ada, adalah karena akibat dari adanya Dzat Yang Maha Suci. I

Tiada ulasan:

Catat Ulasan